"Kasih ibu kepada kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia."
Setiap kali saya teringat lirik lagu tersebut, saya selalu ingin menangis atau bahkan saya kerapkali telah menangis dibuatnya. Karena lagu tersebut membuat saya teringat akan memori masa kecil saya saat menginjak jenjang sekolah dasar.
Saat saya masih SD , ibu adalah seorang yang kerapkali mengalami sakit. Kadang saya heran apa yang membuat ibu sakit. Saya sebenarnya merasa sedih , namun saya lebih merasa takut dan mungkin karena takut yang berlebihan membuat perasaan tersebut menjadi benci , takut karena akan ditinggalkan oleh sosok ibu yang saya punya. Saya sering mencaci maki ibu bahkan sempat berkata bahwa saya akan meminta pada ayah untuk mencarikan pengganti untuk saya ibu baru, yang tidak sepertinya yang tidak sakit-sakitan seperti ibu. Ibu menanggapi itu dengan meminta maaf , bukan marah justru meminta maaf. Saya benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang saya pikirkan saat itu , kenapa saya bisa menghujat ibu saya seperti itu bahkan meminta berganti ibu. Saya sadar betul saya durhaka tapi saat itu saya sepertinya sedang gelap mata dan pikiran. Yang saya tidak tahu , ibu sempat menangis karena perkataan saya itu , dan benar-benar meminta pada ayah untuk mencari pengganti beliau. Ayah mengatakan hal ini kepada saya agar saya mau meminta maaf pada ibu dan menerima keadaan ibu saya dengan ikhlas. Dengan kekeraskepalaan saya , saya menolak hal tersebut dan justru mendukung keputusan ibu.
Suatu saat doa saya hampir terkabul. Ibu keguguran dan hampir meninggal. Ibu dirawat selama sekitar 2 minggu atau mungkin lebih, saya lupa detail wqktunya. Ibu benar-benar drop. Fisio dan batinnya. Kehilangan anak yang dikandung,teringat dengan kata-kata saya dan penyakitnya yang membuat ibu semakin drop. Bahkan di rumah, para tetangga telah menyiapkan untuk tempat memandikan ibu nantinya, memandikan jenazah ibu dan hari itu ibu pulang. Ibu pulang dan alhamdulillah masih diberi kesempatam untuk hidup. Ibu meminta maaf pada adik saya dan juga saya agar memaafkan segala kesalaham ibu dulu. Kesalahan yang mana? Seharusnya saya yang meminta maaf saat itu , tapi yang saya lakukan hanyalah diam. Diam membisu sambil menggandeng tangan adik saya. Ibu berkata agar saya menjaga adik saya nantinya dan ibu meqanti-wanti saya agar baik-baik terhadap ibu baru yang mungkin akan menggantinya , ibu sempat berkata bahwa ibu menyayangi keluarga ini dan dilahirkan untuk menjadi ibu saya. Saat seperti itu pun, saya tidak menangis atau merasa bersalah , saya justru merasa takut , takut akan sebuah kematian, takut akan keramaian , dan takut dengan segala yang tetangga-tetangga lakukan dirumah saya. Saya membawa adik saya ke rumah nenek yang memiliki jarak dekat dengan rumah saya. Di rumah nenek inilah saya baru merasa kehilangan dan takut akan ditinggalkan oleh ibu. Saya menangis , menangisi kelakuan saya, menangisi ketakutan saya dan entahlah apalagi , yang jelas saya disini hanya menangia dalam diam.
Saya teringat akan ibu yang selalu tersenyum meski sedang sakit. Tetap melayani keluaganya , menyiapkan seragam untuk anak-anaknya dan juga ayah , mengantar saya ke sekolah lalu mengantar adik , menyiapkan makanan , membersihkan rumah , itu semua ibu lakukan meski dalam keadaan sakit. Ibu hanya memberi tahu ayah jika sakitnya kambuh. Ibu selalu mengatakan akan pergi ke rumah emak(panggilan untuk nenek dari keluaga ibu) dan akan menginap. Padahal saat itu saya tahu, bahwa ibu akan ke rumah sakit dan menjalani rawat inap. Selalu seperti itu. Ibu menyembunyikan sakitnya dari anak-anaknya, ibu berusaha menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anaknya dan memang telah menjadi yang terbaik hanya saja saya buta. Saya lupa saat ibu tidak ada di rumah , rumah kacau , berantakan , kami(saya dan adik) tidak terurus , dititipkan sana sini , ayah tak kalah kacau , hanya pulang untuk melihat keadaan kami dan mengambil baju gantinya dan juga baju ibu, benar-benar berbeda saat ada ibu di rumah. Akhirnya, saya berlari pulang ke rumah untuk meminta maaf pada ibu sebelum semuanya terlambat dan sebelum ibu benar-benar meninggalkan kami semua selama-lamanya. Saya meminta maaf pada ibu dan meminta ibu agar tetap berada di sisi saya dan tiba-tiba keadaan ibu semakin membaik dari hari ke hari. Saya sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk memiliki ibu. Saya berjanji pada diri saya sendiri untuk membahagiakan ibu , untuk membuat ibu bangga pada saya dan segala hal akan saya lakukan untuk bisa menebus kesalaham saya yang dulu jika bisa ditebus. Saya tidak dapat memikirkan jika ibu benar-bemar meninggalkan saya , dan saya mendapat pengganti ibu. Apakah akan sebaik ibu? Apakah akan seperti ibu? Tentu tidak, karena ibu adalah seorang ibu terbaik yang aku punya. Ibu adalah tempatku bercerita , berkeluh kesah , menemaniku saat tertawa ataupun bersedih , rela bersusah payah dengan membantu ayah bekerja agar anak-anaknya dapat memperoleh pendidikan terbaik , ibu adalah anugerah yang takkan pernah bisa saya jabarkan bagaimana bersyukurnya saya memiliki ibu sepertinya. Maafkan anakmu ibu dan terimakasih untuk segalanya.
